Pages

Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Sunday, November 20, 2011

“Every Body Hurts” by: REM


When your day is long and the night, the night is yours alone,
(ketika siang-siangmu sangat panjang dan malammu, malammu sepi)
When you’re sure you’ve had enough of this life, well hang on
(ketika kaumerasa telah berkecukupan dalam hidup, ya, pertahankan itu!)
Don’t let yourself go, ’cause everybody cries and everybody hurts sometimes
(jangan biarkan dirimu terpuruk, sebab semua orang pasti pernah menangis dan semua orang pasti pernah terluka)
Sometimes everything is wrong. Now it’s time to sing along
(terkadang semuanya nampak salah, namun kini saatnya untuk bernyanyi)
When your day is night alone, *hold on, hold on*
(kala siang dan malammu teramat sunyi, *bertahanlah, bertahanlah*)
If you feel like letting go, *hold on*
(jika kaumerasa terabaikan ,* bertahanlah*)
If you think you’ve had too much of this life, well hang on
(jika kaumerasa telah memiliki terlalu banyak dalam hidup ini, pertahankanlah)
‘Cause everybody hurts. Take comfort in your friends
(sebab semua orang pernah terluka. Rasakan kenyamanan dalam persahabatanmu)
Everybody hurts. Don’t throw your hand. Oh, no. Don’t throw your hand
(semua orang pernah terluka. Jangan putus asa. Oh tidak, tidak. Jangan putus asa)
If you feel like you’re alone, no, no, no, you are not alone
(jika kaumerasa sendirian, oh tidak, tidak, tidak, kau tak sendirian)
If you’re on your own in this life, the days and nights are long,
(jika kau sendirian, siang dan malammu begitu sepi)
When you think you’ve had too much of this life to hang on
(saat kaupikir terlalu banyak yang harus dipertahankan dalam hidup ini)
Well, everybody hurts sometimes,
(ya, semua orang pasti pernah terluka)
Everybody cries. And everybody hurts sometimes
(setiap orang pasti pernah menangis. Dan semua orang pasti pernah terluka)
And everybody hurts sometimes. So, hold on, hold on
(semua orang pernah terluka. Maka bertahanlah, bertahanlah)
Hold on, hold on, hold on, hold on, hold on, hold on
(bertahanlah, bertahanlah, bertahanlah, bertahanlah, bertahanlah, bertahanlah)
Everybody hurts. You are not alone
(semua orang pernah terluka. Kau tak sendiri)


            Everybody Hurts adalah lagu REM yang dirilis dalam album Automatic for the People pada 1992. Kemudian dirilis juga dalam single pada 1993. Lagu Everybody Hurts diciptakan oleh sang drummer Bill Berry. Walaupun namanya muncul dalam album, namun Bill tidak bermain drum dalam lagu ini, melainkan memprogram mesin drum Univox. Aransemen string dalam lagu ini ditulis oleh pemain bass Led Zeppelin John Paul Jones.
            Dalam video klip Everybody Hurts yang disutradarai oleh Jake Scott dan difilmkan di San Antonio, Texas tersebut, mengisahkan tentang para personel REM yang terjebak di jalanan yang macet, kemudian pikiran orang-orang di dalam mobil muncul dalam bentuk teks. Akhirnya mereka keluar dari mobil dan berjalan, kemudian menghilang.
            Pada 1995, lembaga bantuan untuk orang-orang yang ingin bunuh diri di Inggris, The Samaritans, menggunakan lirik lagu Everybody Hurts dalam iklan mereka. 
            Pada 1999, The Corrs merilis album Unplugged yang merupakan bagian dari seri MTV Unplugged. LaguEverybody Hurts menjadi trek bonus dalam album itu. Sesi perekaman album Unplugged berlangsung pada 5 Oktober 1999 di depan para penggemarnya di Ardmore Studios, Irlandia dan dirilis dalam bentuk CD, DVD, dan VHS.
            Pada 2005, Paul Anka merekam ulang Everybody Hurts dengan versi swing jazz dalam albumnya, Rock Swings, yang didalamnya terdiri dari nomor-nomor hits rock and pop yang populer dari pada 1980-an hingga 1990-an.
            Pada 2006, dalam sebuah poling acara TV Channel 5 'Britain's Favourite Break-up Songs', lagu Everybody Hurts menduduki peringkat keempat.
            Pada 2007, Patti Smith merilis album cover version berjudul Twelve melalui Columbia Records. LaguEverybody Hurts diikutsertakan dalam album itu sebagai trek bonus.
            Pada 2010, Everybody Hurts dipilih oleh Simon Cowell sebagai single dalam acara amal untuk mengumpulkan dana bagi korban gempa Haiti. Lagu ini terjual sekitar 200.000 copy selama dua hari, dan ini menjadi penjualan lagu tercepat pada abad-21 di Amerika Serikat.
            Menurut survei PRS for Music baru-baru ini, lagu Everybody Hurts yang diciptakan pada 1992 menduduki puncak teratas daftar polling.
"Lagu yang dapat mengurai air mata yang ditulis dengan baik dapat menghubungkan orang-orang disertai dengan rasa berempati, ini berhubungan dengan lirik yang dapat menyentuh lubuk emosional paling dalam seseorang, bahkan dapat menyentuh seorang manusia yang paling tegar sekalipun " jelas Ellis Rich, ketua PRS Music dalam sebuah pernyataannya. 
            Lirik lagu "everybody hurts" ini menurut saya mengandung makna yang dalam, serta mengandung inspirasi hidup positif. Lagu ini memberikan kekuatan pada orang yang tengah berduka, untuk tidak merasa kecil hati. Bahwa semua manusia pasti pernah bersedih, berduka, terluka. Dan ketika seorang manusia berduka, bersedih dan terluka, ia tidak sendiri. Karena seluruh manusia lainnyakan juga turut merasakan sedih, duka dan luka, bagaikan satu keluarga dan saudara yang terpaut hati. Lalu dari turut merasa itu, akan ada tangan-tangan hati yangkan saling menyatu tuk saling berbagi, berbagi dalam menyembuhakn luka, duka, dan sedih tersebut.
            Inspirasi utamanya adalah manusia harus berkeyakinan bahwa di dunia ini manusia tidak sendiri, pasti ada Allah SWT yang selalu ada untuk membantu dan menuntun manusia. Dan pastinya  Allah SWT tidak akan memberikan cobaan dan ujian (masalah hidup) melebihi batas kemampuan manusia. Allah SWT-pun pasti mempunyai maksud baik pada manusia dengan memberikan masalah hidup berupa musibah dalam hidup itu.
            Lirik lagu everybody hurts ini bagi saya juga meninspirasi manusia tuk tetap selalu bertahan dan jangan menyerah. Bertahan dalam menjalani hidup, bertahan dan jangan menyerah dalam berikhtiar dan bangkit dari kesedihan serta duka untuk menggapai hidup yang lebih baik lagi. Gelap itu takkan selamanya, karena masih akan ada pagi yang cerah dibalik gelapnya malam selama bumi masih berputar. 
            Musibah yang terjadi dalam hidup, belum tentu suara Allah SWT yang berteriak parasit pada manusia. Walau cermin diri tentu tidak boleh ter
lupa, namun hati harus tetap terjaga untuk tidak terjatuh dalam penyesalan hidup.
            Tidak mudah tentu menguatkan hati terutama ketika diri sendiri yang mengalami musibah tersebut. Menguatkan hati orang lain tuk semangat dalam menjalani hidup serta semangat dalam menghadapi masalah hidup saja rasanya saya belum mampu sesempurnanya keutuhan hati. Begitupun dalam berbuat lebih banyak dalam membantu meringankan beban para korban bencana alam, seperti banjir bandang, tsunami, gunung meletus dan sebagainya.

Resensi Film Valley of The Wolves : Palestine


Judul Asli                     : Kurtlar Vadisi Filistin.
Rilis                              : 28 Januari 2011
Sutradara                     : Zübeyr Şaşmaz.
Penulis Naskah           : Bahadir Ozdener.
Perusahaan Produksi : Pana Film.

            Sebuah film kontroversial Turki yang diangkat dari kisah nyata untuk mengeksplorasi kebijakan Israel terhadap Palestina telah dirilis di bioskop-bioskop di seluruh Turki.
           
            Kapal MV Mavi Marmara menjadi terkenal ketika kapal yang mengangkut bantuan kemanusiaan untuk Palestina ini diserang pasukan Israel pada Mei 2010 silam. Tujuannya tak lain agar bantuan yang sudah dikumpulkan tidak bisa sampai untuk rakyat Palestina. Tragedi penyerangan kapal MV Mavi Marmara, merupakan bagian dari gerakan “Gaza Freedom Flotilla” yang menyebabkan kemarahan dunia. Padahal keenam kapal yang diorganinasi oleh gerakan Free Gaza Movement dan The Turkish Foundation for Human Rights and Freedoms and Humanitarian Relief (IHH) dari awal sudah menyatakan bahwa hanya membawa bantuan kemanusiaan untuk penduduk Palestina, yang telah diblokade begitu lama dari dunia luar oleh zionis Israel, sehingga tidak bisa mendapat bantuan sama sekali dari dunia luar. Jangankan berhasil mengantarkan misi kemanusiaan, keenam kapal yang gagal menembus blokade laut Israel di Gaza ini malah dipaksa kembali ke Turki. Sedangkan MV Mavi Marmara yang berisi 8 orang berkebangsaan Turki dan seorang Turki Amerika, menjadi bulan-bulanan senjata pasukan Israel.
            Berangkat dari kejadian yang sempat  menggegerkan dunia, Zübeyr Şaşmaz, sang sutradara, kini mengangkatnya ke layar kaca dan dikemas dengan judul Valley of the Wolves : Palestine. Dalam film yang rilis 28 Januari 2011 ini, mengisahkan tentang sekelompok pasukan komando Turki yang dipimpin oleh Polat Alemdar (diperankan oleh Necati Sasmaz) berhasil menyusup ke wilayah Israel, untuk memburu seseorang yang amat bertanggungjawab atas tragedi penyerbuan Flotilla, Mose Ben Eliyezer (Erdal Besikçioglu).           Film ini dibuka dengan adegan pembunuhan di atas kapal Marmara Mavi yang menyoroti pada popularitas daerah Turki. Instruksi Polat adalah: balas kematian sembilan warga Turki di atas MV Mavi Marmara dan penderitaan semua orang Palestina. Film ini diyakini akan menyulut kembali kemarahan dunia dan mempertegang hubungan antara Turki dan Israel. Apalagi Israel tidak menganggap remeh keberadaan film ini. Valley of the Wolves merupakan sebuah film berseri yang tayang mingguan di layar kaca Turki sejak tahun 2003. Pada dasarnya, Valley of the Wolves menceritakan perjalanan Polat, seorang mata-mata yang ditugasi untuk melakukan beberapa misi yang mustahil. Polat bahkan disejajarkan dengan James Bond yang juga menerima banyak misi mustahil namun tetap bisa terselesaikan. Sebagai James Bondnya Turki, sosok Polat cukup mengena di hati masyarakat. Bahkan gaya Polat menjadi style tersendiri bagi remaja di Turki.
 “The Valley of the Wolves: Palestine” masuk dalam jajaran film termahal di Turki dengan menelan biaya produksi sebesar 20 juta dollar. Dan mengambil lokasi syuting di Adana dan Tarsus, melibatkan lebih dari 400 orang kru.

We’re calling out to people’s conscience. All we want is freedom for innocent and tormented Palestinian people living in inhumane conditions in the world’s biggest prison” Begitulah pendapat yang dikemukakan Bahadır Özdener, sang penulis skenario.

            Sebelum mengetengahkan nasib rakyat Palestina yang dipenjara di tanahnya sendiri, Bahadır Özdener, selaku sang penulis skenario, juga pernah mengusik perihal perang Irak yang tidak berkesudahan dalam Valley of the Wolves : Iraq.
Dalam film The Valley of the Wolves: Palestine, Ozdener mengatakan bahwa dirinya ingin membuka mata dunia dan menceritakan sejarah, mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Palestina. Dia menyebut konflik Palestina sebagai sebuah contoh sempurna dari target-target kaum penjajah. Turki telah sejak lama menjadi anggota NATO, sekutu tradisional Amerika Serikat, dan menjalin hubungan dengan Israel sejak pertengahan tahun 1990-an. Turki menganut paham sekuler, namun mayoritas penduduk negara tersebut adalah Muslim.

"Sederhananya, film itu mengisahkan mengenai Turki yang mendapatkan serangan kekuatan asing, pertama dari AS, kemudian dari Israel."
"Cerita yang diangkat dalam tayangan ini adalah kisah alternatif dari peristiwa yang sebenarnya terjadi," tambah Orhan Tekelioglu, seorang cendekiawan yang menulis mengenai film tersebut dalam kolomnya di surat kabar Radikal.

            Valley of the Wolves: Palestine dibuat beberapa saat setelah seri Valley of the Wolves memicu kecaman di Israel. Pada bulan Januari lalu, sehubungan dengan penayangan sebuah episode serial televisi populer tersebut, yang mengisahkan agen-agen Israel menculik seorang anak Turki, Deputi Menteri Luar Negeri Israel, Danny Ayalon, memanggil duta besar Turki. Pertemuan Ayalon dan duta besar Turki berbuntut panjang karena Ayalon menolak menjabat tangan Ahmet Oguz Cellikol, sang duta besar Turki, dan mendudukkan Cellikol di kursi yang lebih rendah di hadapan kamera televisi. Turki marah besar dengan tindakan tersebut, dan kini, hubungan Israel dan Turki bertambah tegang dengan film tersebut, yang akan menceritakan sepak terjang Polat Alemdar di Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem.

"Kami tidak bisa menanggapi sesuatu yang belum kami saksikan," kata Tal Gat, deputi konsulat jenderal Israel di Istanbul.
            Liga Anti Penistaan (Anti-Defamation League – ADL), sebuah kelompok Yahudi yang berbasis di AS dan menentang anti-Semitisme, mengatakan bahwa film tersebut berseberangan dengan tradisi Ottoman (Turki) yang menjunjung toleransi beragama.
"Dalam sejarahnya, Turki tidak "tercemar" dengan anti-Semitisme," kata Abraham Foxman, direktur nasional ADL. "Tapi ironisnya, saat ini Turki menyebarkan anti-Semitisme melalui media massa."
            Tayangan Valley of the Wolves, yang dibuat oleh perusahaan produksi Pana Film, meraup sukses luar biasa di Turki. Alin Tasciyan, kritikus film Turki, yakin bahwa Valley of the Wolves, yang mengusung gaya Hollywood, dapat menyampaikan pesan yang amat berbeda. Dia menyebut film ini sebagai film yang "anti-Amerika, namun dengan gaya yang sangat Amerika." 



Sources : dari berbagai sumber

Resensi buku 24 Wajah Billy



Judul asli        : The Minds of Billy Milligan.
Penulis           : Daniel Keyes.
Penerjemah    : Miriasti dan Meda Satrio.
Penyunting     : Budhyastuti R.H.
Penerbit         : Qanita, Bandung.
Cetakan         : I, Juli 2005
Tebal             : 699 halaman.
           “Kenalilah dirimu,” pesan Iman Ghazali, sang pemikir besar Islam bergelar Hujjatul Islam yang terkenal dengan produktivitas dan kedalaman karya-karyanya seperti Ihya Ulumuddin dan Tahafut Al Falasifah. Dengan nada yang sama, Plato dan Aristoteles menggaungkannya sejak ribuan tahun lalu. Sungguh, mengenali diri sendiri adalah sebuah misteri kehidupan dan peradaban sepanjang masa. Telah banyak buku ditulis tentang bagaimana mengenal diri, namun fakta-fakta baru tentang fenomena diri dan kepribadian terus bermunculan, dengan mengejutkan. Sebelumnya, Sybil menghentak dengan 16 kepribadian yang dimilikinya. Kisah hidupnya telah dibukukan dengan judul yang sama dan diterjemahkan oleh Prof. Sarlito Wirawan Sarwono yang juga memberikan pujian atas penerbitan novel 24 Wajah Billy ini.
           Kasus William Stanley (Billy) Milligan dari Ohio, Amerika Serikat, pada penghujung tahun 1970-an ini menambah deret panjang fenomena sosial tersebut, di mana kasus Billy, orang dengan kepribadian majemuk ini merupakan satu dari sekian banyak eksperimen alamiah yang akan menjelaskan jauh lebih banyak hal kepada kita, tentang kita sendiri (hal. 696). 
           Bagaimana kita memahami bahwa dalam diri seseorang bersemayam beragam kepribadian yang bertolak belakang? Ia pria Inggris yang cerdas dan rasional (Arthur) sekaligus orang Yugoslavia yang jago bela diri si pengelola rasa benci (Ragen), penjahat brutal yang kasar (Philip) tapi sekaligus bocah tanggung yang sangat penakut (Danny), si empati (David), perempuan lesbian yang haus belaian (Adalana) dan gadis cilik usia tiga tahun penderita disleksia atau cacat membaca (Christene), siahli manipulative (Allen), escape artist (Tommy), orang yang penurut tapi bermasalah (Christoper), penjahat kelas teri (Kevin), si ahli penentu letak (Walter), sekaligus perempuan pendendam (April), yahudi pengembara (Samuel), si kuda pekerja (Mark), seorang egomaniak (Steve), si pelawak (Lee), juga si katup penyalur tekanan (Jason), si penghayal (Robert), seorang tunarungu (Shawn), seorang pemuda yang suka pamer (Martin), seorang yang bekerja di toko bunga (Timothy) dan Sang Guru yang merupakan wujud dari peleburan kedua puluh tiga sosok yang lain.
           Billy Milligan ditangkap karena melakukan serangkaian tindak kriminal yang dilakukan 2(Kevin dan Philip) dari 24 kepribadian yang ada dalam dirinya. Pada akhirnya, pria tampan berusia 26 tahun ini ditangkap karena memperkosa tiga orang mahasiswi di kampus Ohio State University. Tim pembelanya dengan bantuan Dr. Caul, seorang psikiater yang berempati pada Billy, berupaya membuktikan di tengah intervensi politisi dan pengadilan publik via media massa bahwa Billy tidak bersalah karena semua tindak kriminal tersebut dilakukan tanpa disadari pribadi intinya (yang disebut Billy-Unfused atau Billy-U) karena ke-23 pribadi yang lain silih berganti muncul ke ‘tempat utama’ (dengan komando Arthur) dan kerap membuatnya kehilangan waktu dan tampak aneh sekaligus memiliki berbagai bakat seperti bela diri, melukis, bahasa asing atau kedokteran. Tahun 1988, setelah sepuluh tahun mendekam di rumah sakit jiwa, Billy dibebaskan dengan pribadi yang menyatu (yang disebut sang Guru) dan tinggal di California dan memiliki perusahaan film Stormy Life Productions.
           Tema yang unik ditambah penuturan cerita yang runut menjadikan membaca novel yang tebalnya dua kali tebal novel pada umumnya ini cukup mengasyikkan. Selain itu cover dari buku ini adalah lukisan salah satu kepribadian Billy. Ide menaruh lukisan wajah tersebut di cover merupakan ide yang briliant. Meski pembukaan awal terasa lamban dan membosankan, alur mengalir mulus dan menggigit dengan cerita yang kompleks, lebih rumit dan sangat filmis. Berbeda dengan pola-pola multiple personality (kepribadian majemuk) yang umum dikenal dan menjadi ikon dalam benak masyarakat.
           Keyes menggunakan tiga bagian untuk mengisahkan 24 kepribadian Billy, pertama masa galau, yaitu mengisahkan tentang proses ditangkapnya Billy oleh pihak kepolisian dan munculnya sepuluh kepribadian pada masa proses penahanan di kepolisian. Kedua, menjadi Sang Guru, mengisahkan kepribadian-kepribadian baru yang muncul setelah Billy terfusi. Ketiga, usai kemelut, yang menceritakan tentang kondisi Billy yang mulai terkendali dan mulai mengetahui tentang kebenaran.
           Kelihaian Keyes dalam merangkai kata-kata untuk mengisahkan 24 kepribadian Billy benar-benar mampu melukiskan secara tepat dan memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan publik tentang kontroversi kebebasan Billy dari pengadilan Amerika.
            Ketika pertama kali terbit, novel Keyes ini telah mampu memikat ribuan pembaca, mendapatkan respons dan komentar dari berbagai kalangan. Flora Rheta Schreiber, penulis buku Sybil mengagumi buku ini dan mengomentari dengan ungkapan “benar-benar membuatshock“. Novel ini juga sempat menjadi nominasi best true crime category ‘Edgar Award’ dari The Mystery Writers of America.
            Inilah bedanya novel 24 wajah Billy. Novel ini tidak bertendensi menghadirkan kebenaran mono tafsir atau selalu menjadi pahlawan. Ia menghadirkan realitas kemanusiaan dengan pemaknaan yang multi-tafsir. Billy terasa dekat dengan kita karena ia bukan superhero yang selalu benar atau menang. Ia manusia biasa yang gembira, kecewa, atau sedih bahkan sedemikian frustrasinya hingga berulangkali berupaya bunuh diri, bahkan ketika sekalipun yang berada di tempat utama adalah Arthur yang sangat rasional dan menganggap bunuh diri adalah perbuatan tolol. Persis seperti pepatah, life is stranger than fiction, kehidupan nyata lebih aneh dari cerita fiksi, demikian yang tergambar dalam novel ini. Betapa kehidupan Billy yang demikian dramatis dan filmis cocok sekali diangkat ke layar lebar (sekaligus disunting) oleh tokoh utamanya sendiri dengan judul The Crowded Room yang disutradarai Joel Schumacher.
           Kelemahan novel ini, jika boleh dikatakan demikian, adalah gaya penerjemahan yang kaku serta kurang cermat dengan data yang berpengaruh memperlambat laju mesin cerita. Di samping itu, cenderung terlalu bergaya ala Jakarta (baca: cair) seperti kata-kata “tauk” atau “ga” yang ditaruh dalam tuturan narasi, yang kurang dapat dibenarkan dari segi EYD. Kalaupun diniatkan sebagai sebuah hal yang sah dalam sastra karena novel adalah karya sastra yang menjunjung kreativitas, gaya cuek ala Betawi tersebut mengurangi keanggunan bangunan cerita yang kokoh atau seperti pengganjal laju tuturan. Kecuali, jika ditempatkan dalam dialog, yang tentunya sesuai konteks, misalnya dalam percakapan yang dilakukan Billy dalam pribadi Allen yang berbisnis narkoba atau sumpah-serapah Ragen atau Tommy yang berwatak keras dan antisosial. Untungnya semua celah tersebut tertutupi dengan materi cerita yang dahsyat. Tetapi tentu novel ini akan lebih nikmat jika diolah dengan cara penerjemahan yang akurat dan cermat.
           Di samping itu, dalam membaca novel ini, kita dipaksa memamah sederet fakta dan hasil riset ilmiah yang bagi kalangan selain kedokteran dan pskiatri agak lelah mencernanya. Namun, mungkin demikian konsekuensi novel yang berdasarkan kisah nyata. Ia dituntut harus tetap fasih bercerita seraya anggun berkompromi dengan tuntutan pasar serta industri yang menuntut standar mainstream novel fiksi: dialog yang terarah, klimaks, ketegangan dan antiklimaks, yang dicapai dengan salah satu bentuk kompromi yang diakui penulis sendiri yakni dengan menciptakan dramatisasi-dramatisasi atas dasar ‘kebebasan penyair’ (hal. 16) tidak dengan tujuan menambah seru cerita karena bahan bakunya sendiri sudah sangat mendukung tetapi agar lebih masuk dalam logika masyarakat yang terbiasa dengan kaidah bacaan fiksi konvensional. 
           Akhir cerita novel yang menggantung mungkin terasa kurang greget atau kurang bersantan dalam selera konvensional yang terbiasa dengan akhir cerita yang umumnya tuntas (happy ending atau sad ending). Namun, memang harus demikian, karena selain tokoh utama masih hidup dan berkutat dengan dunianya yang baru setelah menjadi pribadi yang utuh, tema tentang mengenal diri memang takkan pernah berakhir, tiada titik, hanya koma. 






*NB : Dari berbagai sumber